PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN JIWA REMAJA

Posted: 23 Februari 2012 in Dunia Remaja

Perilaku remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, disatu pihak remaja mempunyai keinginan kuat untuk
mengadakan interaksi sosial dalam upaya mendapatkan kepercayaan dari lingkungan, di lain pihak ia mulai
memikirkan kehidupan secara mandiri, terlepas dari pengawasan orang tua dan sekolah. Salah satu bagian
perkembangan masa remaja yang tersulitadalah penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Remaja harus
menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan interpersonal yang awalnya belum pernah ada, juga harus
menyesuaikan diri dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Untuk mencapai tujuan pola
sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Ia harus mempertimbangkan pengaruh
kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, membentuk kelompok sosial baru dan nilai-nilai baru memilih
teman.
A. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Umur 4 – 6 tahun dianggap sebagai
titik awal proses identifikasi diri menurut jenis kelamin, peranan ibu dan ayah atau orang –tua pengganti ( nenek,
kakek dan orang dewasa lainnya ) sangat besar. Peran sebagai “ wanita “ dan “ Prias” harus jelas. Dalam mendidik,
ibu dan ayah harus bersikap konsisten , terbuka, bijaksana, bersahabat, ramah, tegas, dan dapat lancar, maka dapat
timbul proses identifikasi yang salah. Masa remaja merupakan pengembangan identitas diri, dimana remaja berusaha
mengenal diri sendiri, ingin mengetahui bagaimana orang lain menilainya, dan mencoba menyesuaikan diri dengan
harapan orang lain.
1. Pola asuh keluarga
Proses sosialisasi sangat dipengaruhi oleh pola asuh dalam keluarga.
?? Sikap orang-tua yang otoriter, mau menang sendiri, selalu mengatur, semua perintah harus diikuti tanpa
memperhatikan pendapat dan kemauan anak akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian remaja. Ia
akan berkembang menjadi penakut, tidak memiliki rasa percaya diri, merasa tidak berharga, sehingga proses
sosialisasi menjadi terganggu.
?? Sikap orang-tua yang “permisif “ (serba boleh, tidak pernah melarang, selalu menuruti kehendak anak, selalu
memanjakan) akan menumbuhkan sikap ketergantungan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial
diluar keluarga.
?? Sikap orang-tua yang selalu membandingkan anak-anaknya, akan menumbuhkan persaingan tidak sehat dan
saling curiga antar saudara.
?? Sikap orang-tua yang berambisi dan selalu menuntut anaknya, akan berakibat anak cenderung mengalami
frustrasi, takut gagal, dan merasa tidak berharga.
?? Orang-tua yang “ demokratis “, akan mengakui keberadaan anak sebagai individu dan makluk sosial serta mau
mendengarkan dan menghargai pendapat anak. Kondisi ini akan menimbulkan keseimbangan antara
perkembangan individu dan sosial, sehingga anak akan memperoleh suatu kondisi mental yang sehat.
2. Kondisi keluarga
Hubungan orang-tua yang harmonis akan menumbuhkan kehidupan emosional yang optimal terhadap
perkembangan kepribadian anak sebaliknya, Orang tua yang sering bertengkar akan menghambat komunikasi dalam
keluarga, dan anak akan “ melarikan diri “ dari keluarga. Keluarga yang tidak lengkap misalnya karena perceraian,
kematian, dan keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang, dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.
3. Pendidikan moral dalam keluarga
Pendidikan moral dalam keluarga adalah upaya menanamkan nilai–nilai akhlak atau budi pekerti kepada anak di
rumah . Pengertian budi pekerti mengandung nilai-nilai :
a)     Keagamaan. Pendidikan agama diharapkan dapat menumbuhkan sikap anak yang mampu menjauhi halhal
yang dilarang dan melaksanakan perintah agama. Menaamkan norma agama dianggap sangat besar
peranannya terutama dalam menghadapi situasi globalisasi yang berakibat bergesernya nilai kehidupan.
Remaja yang taat norma agama akan terhindar atau mampu bertahan terhadap pengaruh buruk di
lingkungannya.
b)      Kesusilaan, meliputi nilai-nilai yang berkaitan dengan orang lain, misalnya sopan santun, kerjasama,
tenggang rasa, saling menghayati, saling menghormati , menghargai orang lain dan sebagainya.
c)       Kepribadian, memiliki nilai dalam kaitan pengembangan diri, misalnya keberanian, rasa malu, kejujuran,
kemandirian dan sebagainya.
Penanaman nilai-nilai budi pekerti dalam keluarga dapat dilakukan melalui keteladanan orang-tua atau orang
dewasa. Bacaan yang sehat , pemberian tugas, dan komunikasi efektif antar anggota keluarga. sebaliknya, apabila
keluarga tidak peduli terhadap hal ini, misalnya membiarkan anak tanpa komunikasi dan memperoleh nilai diluar
moral agama dan sosial, membaca buku dan menonton VCD porno, bergaul bebas, minuman keras, merokok akan
berakibat buruk terhadap perkembangan jiwa remaja.
B. Lingkungan Sekolah
Pengaruh yang juga cukup kuat dalam perkembangan remaja adalah lingkungan sekolah. Umumnya orang-tua
menaruh harapan yang besar pada pendidikan di sekolah, oleh karena itu dalam memilih sekolah orang–tua perlu
mempertimbangkan hal sebagai berikut :
1) Susunan Sekolah
Prasyarat terciptanya lingkungan kondusif bagi kegiatan belajar mengajar adalah suasana sekolah, Baik buruknya
suasana sekolah sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, komitmen guru, sarana pendidikan dan
disiplin sekolah Suasana sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa remaja yaitu dalam hal :
(a) Kedisiplinan
Sekolah yang tertib dan teratur akan membangkitkan sikap dan perilaku disiplin pada siswa. Sebaliknya suasana
sekolah yang kacau dan disiplin longgar akan berisiko, bahwa siswa dapat berbuat semaunya dan terbiasa
dengan hidup tidak tertib, tidak memiliki sikap saling menghormati, cenderung brutal dan agresif.
(b) Kebiasaan belajar
Suasana sekolah yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar akan berpengaruh terhadap menurunnya
minat dan kebiasaan belajar. Akibatnya, prestasi belajar menurun dan selanjutnya diikuti dengan perilaku yang
sesuai dengan norma masyarakat, misalnya sebagai kompensasi kekurangannya di bidang akademik,
siswamenjadi nakal dan brutal.
(c) Pengendalian diri
Suasana bebas di sekolah dapat mendorong siswa berbuat sesukanya tanpa rasa segan terhadap guru. Hal ini
akan berakibat siswa sulit untuk dikendalikan , baik selama berada di sekolah maupun di rumah. Suasana
sekolah yang kacau akan menimbulkan hal-hal yang kurang sehat bagi remaja, mosalnya penyalahgunaan
Napza,perkelahian, kebebasan seksual, dan tindak kriminal lainnya.
2) Bimbingan Guru
Di sekolah remaja menghadapi beratnya tuntutan guru, Orang tua dan saratmya kurikulum sehingga dapat
menimbulkan beban mental. Dalam hal ini peran wali kelas dan guru pembimbing sangat berarti Apabila guru
pembimbing sebagai konselor sekolah tidak berperan, maka siswa tidak memperoleh bimbingan yang
sewajarnya. Untuk menyalurkan minat, bakat dan hobi siswa, perlu dikembangkan kegiatan ekstrakurikuler
dengan bimbingan guru. Dalam proses belajar mengajar, guru tidak sekedar mengalihkan ilmu pengetahuan
yang terkandung dalam kurilukum tertulis (Written Curriculum), melainkan juga memberikan nilai yang
terkandung didalamnya (hidden curriculum), misalnya kersama, sikap empati, mau mendengarkan orang lain,
menghargai dan sikap lain yang dapat membuahkan kecerdasan emosional. Apabila guru tidak peduli terhadap
hal tersebut, sulit diharapkan perkembangan jiwa siswa secara optimal. Oleh sebab itu dalam upaya
mengoptimalkan perkembangan jiwa remaja di sekolah guru diharapkan :
– Memperhatikan ,pendekatan yang berbeda.
– Bersedia mendengarkan dan memperhatikan keluhan siswa individual ,karena setiap siswa memiliki
sifat, bakat,minat dan kemampuan
– Memiliki kepekaan “ membaca “ kondisi batin ( mood ) siswa
– Perilaku guru dapat dijadikan teladan bagi siswa.
– Memperhatikan dan menciptakan rasa aman bagi seluruh siswa di sekolah.
– Menanamkan nilai-nilai budi pekerti melalui proses pembiasaan misalnya sopan santun , menghargai
orang lain ,bekerja sama,mengendalikan emosi, kejujuran dan sebagainya.
– Berpikir positif ( positive thinking ) terhadap siswa
– Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa
– Bersikap sadar,dewasa dan terbuka dalam menilai perilaku siswa.
– Memahami prinsip dasar perkembangan jiwa remaja agar dapat memahami dan menghargai siswa
– Menghindari sikap mengancam terhadap siswa.
– Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasi kan diri
– Mengendalikan emosi dan menyusuaikan diri dengan cara siswa berkomunikasi.
C. Lingkungan Teman Sebaya
Remaja lebih banyak berada diluar rumah dengan teman sebaya, Jadi dapat dimengerti bahwa sikap, Pembicaraan,
minat, Penampilan dan perilaku teman sebaya lebih besar pengaruhnya daripada keluarga misalnya, jika remaja
mengenakan model pakaian yang sama dengan pakaian anggota kelompok yang populer, maka kesempatan baginya
untuk dapat diterima oleh kelompok menjadi lebih besar Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum
alkohol. rokok atau zat adiktif lainnya, maka remaja cenderung mengikuti tanpa mempedulikan akibatnya.
Didalam kelompok sebaya, remaja berusaha menemukan dirinya. Disini ia dinilai oleh teman sebayanya tanpa
mempedulikan sanksi–sanksi dunia dewasa. K elompok sebaya memberikan lingkungan yaitu dunia tempat remaja
dapat melakukan sosialisasi dimana nilai yang berlaku bukanlah nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan
oleh teman seusianya, Disinilah letak berbahayanya bagi perkembangan jiwa remaja, apabila nilai yang
dikembangkan dalam kelompok sebaya adalah nilai yang negatif, akan lebih berbahaya apabila kelompok sebaya ini
cenderung tertutup (closed group), dimana setiap anggota tidak dapat terlepas dari kelompok nya dan harus
mengikuti nilai yang dikembangkan oleh pimpinan kelompok, sikap, pikiran, perilaku, dan gaya hidupnya merupakan
perilaku dan gaya hidup kelompoknya.
D. Lingkungan Masyarakat
Dalam kehidupanya, manusia dibimbing oleh nilai-nilai yang merupakan pandangan mengenai apa yang baik dan apa
yang buruk. Nilai yang baik harus diikuti, dianut, sedangkan yang buruk harus dihindari, sesuai dengan aspek
rohaniah dan jasmaniah yang ada pada manusia, maka manusia dibimbing oleh pasangan nilai materi dan nonmateri.
Apabila manusia hendak hidup secara damai di masyarakat, maka sebaiknya kedua nilai yang merupakan
pasangan tadi diserasikan akan tetapi kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa nilai materi mendapat tekanan
lebih besar daripada nilai non-materi atau spiritual. hal ini terbukti dari kenyataan bahwa sebagai tolok ukur peranan
seseorang dalam masyarakat adalah kebendaan dan kedudukan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s