Beberapa jenis gangguan jiwa yang banyak terjadi pada masa remaja

Posted: 23 Februari 2012 in Dunia Remaja

A. Gangguan Cemas
Definisi
Cemas (ansietas) adalah perasaan gelisah yang dihubungkan dengan suatu antisipasi terhadap bahaya, ini berbeda
dengan rasa takut, yang merupakan bentuk respon emosional terhadap bahaya yang obyektif, walaupun manifestasi
fisiologik yang ditimbulkannyasama cemas merupakan suatu bentuk pengalanan yang umum, tapi dapat ditemui
dalam bentuk yang berbeda pada gangguan psikiatrik dan gangguan medis Diagnosis mengenai cemas ditegakkan
apabila gejala cemmas mendominasi dan menyebabkan distres (rasa tertekan) atau gangguan yang nyata.
Manifestasi cemas sangat bervariasi, beberapa gejala yang umum terdapat :
1) Kardiovaskuler : palpitasi , takhikardi, kenaikan tekanan darah ringan – sedang,muka merah ( flushing )
atau pucat.
2) Pernafasan : nafas pendek dan cepat
3) Kulit : jerawat/bisul diwajah , kulit merah-merah (rash), temperatur kulit berubah-ubah (kadang panas,
kadang dingin), banyak keringat, kesemutan (parestesi).
4) Muskuloskeletal : tremor , gemeter, ketegangan otot dan kejang otot.
5) Gastrointestinal : diare, nausea, dan nyeri perut.
6) Kondisi fisik lain : sakit kepala , nyeri dada, kewaspadaan yang berlebihan, insomnia, pusing, pingsan, dan
sering buang air kecil.
7) Gejala psikologis : merasa takut, tegang, gugup, marah, stres, rewel, gelisah dan bengong, dalam kondisi
panik : merasa akan mati,perasaan derealisasi ( merasa lingkungan berubah ), dan tidak dapat berpikir,
digambarkan oleh orang lain sebagai nervous atau lekas gugup,Sering pula mengalami mimpi buruk
(nightmares), fantasi yang menakutkan dan merasa diri “ berbeda “.
8) Perilaku sosial : tampak sebagai orang yang tidak berdaya, selalu lekat dan tergantung pada orang lain,
pemalu, menarik diri, mengalami kesulitan dalam situasi sosial. Reaksinya berlebihan atau tidak ada reaksi,
sering menolak untuk melakukan aktivitas yang berbahaya misal memanjat pohon, atau sebaliknya
berhubungan dengan sesuatu yang mempunyai risiko tinggi ( counterphobically ).
Prevalensi dan epidemiologi
Gangguan cemas merupakan gangguan yang banyak terjadi pada anak dan remaja. Prevalensi yang diperoleh dari
berbagai penelitian didapatkan angka 5%-50%. (sangat tergantung kultur setempat). Fobia sosial ditemukan lebih
banyak pada laki-laki, sedangkan pada fobia yang simpel, gangguan menghindar dan agorafobia lebih banyak
didapat pada anak perempuan. Sedangkan cemas perpisahan, gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik (tanpa
agorafobia) didapatkan pada kedua jenis kelamin.
Penatalaksanaan
Setelah diagnosis ditegakkan dan daftar permasalahan dibuat, rencana terapi dapat dibuat :
a) Terapi farmakologis.
b) Psikoterapi individu dalam bentuk suportif, yaitu memberikan dukungan terhadap keberhasilan remaja.
c) Terapi remedial.
d) Rujuk ke psikiater bila dalam waktu 6 minggu tidak terjadi perbaikan.
e) Terapi keluarga.
Terapi Farmakologis :
Tujuan dari terapi medikamentosa adalah :
a) Meredakan gejala yang ada dan menghilangkan distres
b) Mencegah komplikasi yang mungkin timbul
c) Meminimalkan ketidak mampuan yang terjadi
d) Meningkatkan potensi perkembangan

B. Gangguan Depresi
Dalam perkembangan normalpun seorang remaja mempunyai kecenderungan untuk mengalami depresi, Oleh karena
itu sangatlah penting untuk membedakan secara jelas dan hati-hati antara depresi yang disebabkan oleh gejolak
mood yang normal pada remaja (adolescent turmoil) dengan depresi yang patologik. Akibat sulitnya membedakan
antara kedua kondisi diatas, membuat depresi pada remaja sering tidak .
Terdiagnosis, Bila tidak ditangani dengan baik, gangguan psikiatrik pada remaja sering kali akan berlanjut sampai
masa dewasa, Carlson, seperti yang dikutip oleh shafii, membagi depresi pada remaja menjadi tipe primer dan
sekunder.
Tipe primer : bila tidak ada gangguan psikiatrik sebelumnya, dan tipe sekunder : bila gangguan yang sekarang
mempunyai hubungan dengan gangguan psikiatrik sebelumnya. Pada gangguan depresi yang sekunder biasanya
lebih kacau, lebih agresif, mempunyai lebih banyak kelehan sometik, dan lebih sering terlihat mudah tersinggung,
putus asa, mempunyai ide bunuh diri, problem tidur, penurunan prestasi sekolah, harga diri yang rendah , dan tidak
patuh.
Gambaran Klinis :
– Mood disforik ( Labil dan mudah tersinggung ) dan afek depresif
Gejolak mood pada remaja adalah normal, tapi pada kondisi depresi menjadi lebih nyata, Mood yang
disforik dan sedih lebih sering tampak. Kecenderungan untuk marah-marah dan perubahan mood
meningkat.
– Pubertas
Depresi kronis yang dialami sejak masa remaja awal, kemungkinan akanmengalami kelambatan pubertas,
terutama pad depresi yang disertai dengan kehilangan berat badan dan anoreksia. Remaja yang
mengalami depresi lebih sulit menerima atau memahami tanda-tanda pubertas yang muncul. Perubahan
hormonal yang disertai stres lingkungan, dapat memicu timbulnya depresi yang dalam dan kemungkinan
munculnya perilaku bunuh diri. Mimpi basah dan mimpi yang berhubungan dengan incest (hubungan
seksual antar anggota keluarga), dapat menambah beban rasa bersalah pada remaja yang depresi.
Periode menstruasi pada remaja wanita yang mengalami depresi, mungkin terlambat, tidak teratur, atau
disertai dengan timbulnya rasa sakit yang hebat dan perasaan tidak nyaman, Mood yang disforik sering
nampak pada periode pramenstrual, Remaja wanita yang mengalami depresi mungkin merasa murung
(feeling blue), sedih (down in the dump), menangis tanpa sebab, menjadi sebal hati (sulky and pouty),
mengurung diri di kamar, dan lebih banyak tidur.
– Perkembangan kognitif
Disorganisasi fungsi kognitif pada remaja yang bersifat sementara, menjadi lebih nyata pada kondisi
depresi. Pada remaja awal yang mengalami depresi, terdapat keterlambatan perkembangan prosespikir
abstrak yang biasanya muncul pada usia sekitar 12 tahun. Pada remaja yang lebih tua, kemampuan yang
baru diperoleh ini akan menghilang atau menurun. Prestasi sekolah sering terpengaruh bila seorang
remaja biasanya mendapat hasil baik di sekolah, tiba-tiba prestasinya menurun, depresi harus
dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penyebabnya. Membolos, menunda menyelesaikan tugas,
perilaku yang mudah tersinggung didalam kelas, tidak peduli terhadap hasil yang dicapai dan masa depan,
dapat merupakan gejala awal dari depresi pada remaja.
– Hari diri
Pada remaja, kondisi depresi memperkuat perasaan rendah diri. Rasa putus asa dan rasa tidak ada yang
menolong dirinya makin merendah kan hatga diri. Pada satu saat remaja yang depresi mencoba untuk
melawan perasaan rendah dirinya dengan penyangkalan, fantasi, atau menghindari kenyataan realitas
dengan menggunakan NAPZA.
– Perilaku antisosial
Membolos, mencuri, berkelahi, sering mengalami kecelakaan, yang terjadi terutama pada remaja yang
sebelumnya mempunyai riwayat perilaku yang baik, mungkin merupakan indikasi adanya depresi,
– Penyalah gunaan NAPZA
Kebanyakan remaja yang depresi cenderung menyalahgunakan NAPZA, misalnya ganja, obat-obat yang
meningkat mood ( amfetamin ), yang menurunkan mood ( barbiturat, tranquilizer, hipnotika ) dan alkohol.
Akhir-akhir ini banyak digunakan heroin, kokain dan derivatnya serta halusinogen.
– Perilaku seksual
Secara umum remaja yang mengalami depresi tidak menunjukkan minat untuk kencan atau mengadakan
interaksi heteroseksual. Namun ada juga remaja yang mengalami depresi menjadi berperilakuberlebihan
dalam masalah seksual, atau menjalani pergaulan bebas, sebagai tindakan defensif untuk melawan
depresinya, Beberapa remaja menginginkan kehamilan sebagai kompensasi terhadap objek yang hilang
atau rasa rendah dirinya. Remaja yang mengalami depresi ada kemungkinan kawin muda untuk
menghindari konflik dalam keluarga. Seringkali perkawinan ini malah memperkuat depresinya.
– Kesehatan fisik
Remaja yang mengalami depresi, tampak pucat, lelah dan tidak memancarkan kegembiraan dan
kebugaran, Seringkali mereka mempunyai banyak keluhan fisik, seperti sakit kepala, sakit lambung, kurang
nafsu makan, dan kehilangan berat badan tanpa adanya penyebab organik, Remaja yang mengalami
depresi biasanya tidak mengekspresikan perasaannya secara verbal, namun lebih banyak keluhan fisik
yang diutarakan , sehingga hal ini biasanya merupakan satu-satunya kondisi yang membawanya datang ke
dokter. Sensitivitas dari sang dokter dalam menemukan mood yang disforik ataupun depresi akan dapat
mencegah kemungkinan terjadinya bunuh diri pada remaja.
– Berat badan
Penurunan berat badan yang cepat dapat merupakan indikasi adanya depresi. Harga diri yang rendah dan
kurangnya perhatian pada perawatan dirinya, atau makan yang berlebihan dapat menyebabkan obesitas,
merupakan tanda dari depresi.
– Perilaku bunuh diri
Remaja yang mengalami depresi mempunyai kerentanan tinggi terhadap bunuh diri. Penelitian di
kentucky, Amerika Serikat, menyebutkan sekitar 30 % dari mahasiswa tingkat persiapan dan pelajar
sekolah menengah atas pernah berpikir serius tentang percobaan bunuh diri dalam satu tahun terakhir
saat diteliti , 19 % mempunyai rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri , dan 11 % telah mencoba
melakukan bunuh diri (Jennings 1990, seperti dikutip Shafii).
Penatalaksanaan
Pendekatan biopsikososial digunakan dalam mengobati remaja yang mengalami depresi. Pendekatan ini meliputi
psikoterapi ( individual, keluarga , kelompok ), farnakoterapi, remedial / edukatif, dan pelatihan keterampilan sosial.
Sebelum memulai suatu bentuk terapi, sebaiknya dipertimbangkan dengan hati-hati. Adanya obsesi untuk bunuh diri
harus diobservasi dengan cermat dan sebaiknya pasien di rawat inap. faktor lain seperti kemampuan untuk berfungsi
atau stabilitas keluarga merupakan faktor yang harus dipertimbangkan untuk merawat inapkan remaja ini.

C. Gangguan somatoform ( Psikosomatik )
Gangguan ini lebih dikenal di masyarakat umum sebagai gangguan psikosomatik .
Ciri uatama dari gangguan somatoform adalah adanya keluhan gejala fisik yang berulang, yang disertai dengan
dengan permintaan pemeriksaan medis : meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah
dijelaskan oleh dokter bahwa tidak ditemukan kelainan fisik yang menjadi dasar keluhannya. Pasien biasanya
menolak adanya kemungkinan penyabab psikologis, walaupun ditemukan gejala anxietas dan depresi yang nyata.
Gejala Umum yang sering ditemukan
– Gangguan somatisasi : ciri utama adalah adanya gejala fisik yang bermacam-macam ( multiple ), berulang
dan sering berubah-ubah.Biasanya sudah berlangsung bertahun-tahun (sekurang-kurangnya 2 tahun), disertai
riwayat pengobatan yang panjang dan sangat kompleks, baik ke pelayanan kesehatan dasar maupun
spesialistik, dengan hasil pemeriksaan atau bahkan operasi yang negatif hasilnya (‘doctor’ shopping).
Keluhannya dapat mengenai setiap sistem atau bagian tubuh yang manapun, tetapi yang paling lazim adalah
keluhan gangguangastrointestinal ( perasaan sakit perut, kembung, berdahak, mual , muntah dan sebagainya) ,
keluhan perasaan abnormal pada kulit (perasaan gatal, rasa terbakar, kesemutan, baal, pedih dan sebagainya)
serta bercak-bercak pada kulit, keluhan mengenai seksual dan haid sering muncul. sering terdapat anxietas dan
depresi yang nyata sehingga memerlukan terapi khusus fungsi dalam keluarga dan masyarakat terganggu,
berkaitan dengan sifat keluhan dan dampak pada perilakunya. Lebih sering terjadi pada wanita dan biasanya
muncul pada usia remaja akhir / dewasa muda, dapat pula ditemukan pada pra-pubertas. Ketergantungan atau
penyalahgunakan obat-obatan ( biasanya sedativa dan analgetika ) terjadi akibah seringnya menjalani
rangkaian pengobatan. Termasuk : gangguan psikosomatik multipel.
– Gangguan hipokondrik : ciri utama adalah preokupasi yang menetap akan kemungkinan menderita satu atau
lebih gangguan fisik yang serius dan progresif. Pasien menunjukkan keluhan somatik yang menetap atau
preokupasi terhadap adanya deformitas atau perubahan bentuk / penampilan , Perhatian biasanya hanya
terfokus pada satu atau dua organ / sistem tubuh . Tidak mau menerima nasihat atau penjelasan dari beberapa
dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhannya . Sering disertai
depresi dan anxietas yang berat gangguan Hipokondrik ditemukan pada laki-laki maupun wanita sama
banyaknya.
– Disfungsi otonomik somatoforn : Keluhan fisik yang ditampilkan pasien seakan akan merupakan gejala dari
sistem saraf otonom, misalnya sistem kardiovaskuler ( cardiac neurosis ), gastrointestinal ( gastric neurosis dan
nervous diarrhoea ) , atau pernafasan ( hiperventilasi psikogenik dan cegukan ). Gejala yang nampak dapat
berupatanda objektif rangsangan otonom , seperti palpitasi berkeringat, muka panas / merah (flushing), dan
tremor. Selain itu dapat pula berupa tanda subjektif dan tidak khas, seperti perasaan sakit, nyeri, rasa terbakar,
rasa berat, rasa kencang, atau perasaan badan seperti mengembang. Juga ditemukan adanya bukti stes
psikologis atau yang nampaknya berkaitan dengan gangguan ini. Tidak terbukkti adanya gangguan yang
bermakna pada struktur atau fungsi dari sistem atau organ yang dimaksud.
– Gangguan nyeri somatoform menetap
Keluhan yang menonjol adalah nyeri berat, menyiksa dan menetap, yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya
atas dasar proses fisiologis maupun adanya gangguan fisik, nyeri timbul berkaitan dengan adanya konflik yang
berdampak emosional atau problem psikososial yang cukup jelas, yang berdampak meningkatnya perhatian dan
dukungan, baik personal maupun medis untuk bersangkutan.
Penatalaksanaan
– Terapi farmakologis : terapi yang diberikan untuk kasus dengan gangguan somatoform bersifat
simtomatik sesuai dengan keluhan somatik pasien dan dapat berupa : analgetika, relaksan otot,
antasida. Bila ditemukan gejala depresi : tambahkan anti depresan ( lihat : penatalaksanaan
gangguan depresi ), bila ditemukan gejala anxietas berikan anti anxietas, ( lihat : penatalalsanaan
gangguan cemas ).
– Psikoterapi suportif
– Terapi remedial / edukatif
– Terapi keluarga
D. Gangguan Psikotik
Gangguan psikotik adalah suatu kondisi terdapatnya gangguan yang berat dalam kemampuan menilai realitas, yang
bukan karena retardasi mental atau gangguan penyalahgunaan NAPZA,, Terdapat gejala : waham , halusinasi,
perilaku yang sangat kacau , pembicaraan yang inkoheren ( kacau ) , tingkah laku agitatif dan disorientasi,
Yang termasuk gangguan psikotik antara lain :
– Skizofrenia
– Gangguan mood / afektif yang disertai dengan gejala psikotik – gangguan waham
– Gangguan mental organik dengan gejala psikotik ( yang ditandai oleh adanya antara lain delirium,
demensia )
Skizofrenia
Skizofrenia pada masa kanak dan remaja didefinisikan sama dengan skizofrenia pada masa dewasa, dengan gejala
psikotik yang khas, seperti adanya defisit pada fungsi adaptasi, waham, halusinasi, asosiasi yang melonggar atau
inkoherensi ( isi pikir yang kacau ), katatonia, afek yang tumpul atau tidak dapat diraba-rabakan. Gejala ini harus
ada selama paling sedikit 1 bulan atau lebih. Defisit pada fungsi adaptasi yang terdapat pada skizofrenia masa kanak
dan remaja, muncul dalam bentuk kegagalan mencapai tingkat perkembangan sosial yang diharapkan atau pun
hilangnya beberapa keterampilan yang telah dicapai.
Gangguan mood / afektif yang disertai dengan gejala psikotik
Pada mania dengan gejala psikotik, gambaran klinisnya lebih berat dari pada mania tanpa gejala psikotik. Harga diri
yang membubung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran dan kegelisahan
sertakecurigaan menjadi waham kejar. Aktivitas yang terus menerus dapat menjurus kepada agresi dan kekerasan.
Pada depresi berat dengan gejala psikotik, gambaran klinisnya lebih berat dibandingkan dengan depresi berat tanpa
gejala psikotik. Biasanya disertai dengan waham, halusinasi atau stupor depresif (mematung). Wahamnya
melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam. Halusinasi auditorik atau olfaktorik
biasanya berupa suara yang menghina / menuduh atau tercium bau kotoran atau daging membusuk,Retardasi
psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
Gangguan waham
Kelompok gangguan ini ditandai secara khas oleh berkembangnya waham yang umumnya menetap dan kadang
bertahan seumur hidup waham beraneka ragam isinya, sering berupa waham kejaran, hipokondrik, kebesaran
kecemburuan, curiga, atau adanya keyakinan bentuk tubuhnya abnormal/ada yang salah. Awitan (onset) biasanya
muncul pada usia pertengahan, tetapi kadang-kadang pada kasus yang berkaitan dengan keyakinan tentang bentuk
tubuh yang salah, dijumpai pada usia dewasamuda/remaja akhir. Waham tersebut harus sudah ada sedikitnya 3
bulan lamanya dan harus bersifat pribadi (personal), bukan subkultural. Termasuk : paranoia, psikosis paranoid.
Tidak termasuk : gangguan kepribadian paranoid, skizofrenia paranoid.
Gangguan mental organik dengan gejala psikotik
Yang termasuk gangguan ini antara lain : delirium : suatu sindrom yang etiologinya tidak khas, ditandai oleh
gangguan kesadaran yang bersamaan dengan menurunnya perhatian , persepsi , proses pikir, daya ingat, perilaku
psikomotor, emosi dan siklus tidur (sleep– wake–cycle), Kondisi ini dapat terjadi pada semua usia.
Penatalaksanaan
Terapi biologis :
a) terapi farmakologis : dengan anti – psikotik , misalnya :
b) Terapi kejang listrik / ECT ( Electro – Convulsive Therapy )
– Terapi Psikososial :
-Terapi keluarga
– Hospitalisasi : bila dianggap membahayakan dirin sendiri maupun orang lain di sekitarnya
E. Gangguan Penyalahgunaan NAPZA ( Narkotik, Alkohol, Psikotropika, dan zat Adikiflainnya )
Penyalahgunaan Napza di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat . faktor risiko yang dapat
diidentifikasi pada remaja penyalahguna NAPZA :
– Konflik keluarga yang berat
– Kesulitan Akademik
– Adanya komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lain, seperti gangguan tingkah laku dan depresi.
– Penyalahgunaan NAPZA oleh orang –tua dan teman
– Impulsivitas
– Merokok pada usia terlalu muda.
Semakin banyak faktor risiko yang ada, semakin besar kemungkinan seorang remaja akan menjadi pengguna
NAPZA.
Gambaran Klinis
Menurut Pdoman Pnggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III ( PPDGJ III ) 1993, Gangguan yang
berhubungan dengan zat termasuk gangguan : Ketergantungan, Penyalahgunaan, Intoksikasi, dan keadaan putus
zat.
Penyalah gunaan zat adalah penggunaan NAPZA secara patologis (diluar tujuan pengobatan), yang sudah
berlangsung selama paling sedikit satu bulan berturut-turut dan menimbulkan gangguan dalam fungsi sosial, sekolah
atau Pekerjaan. Penyalahgunaan NAPZA dapat menimbulkan ketergantungan.
Ketergantungan zat mengacu kepada satu kelompok gejala kognitif, perilaku dan fisiologis yang mengindikasikan
seseorang secara terus menerus menggunakan NAPZA dengan teratur dan dalam jangka waktu panjang. Gejala
ketergantungan ini dapat berbentuk ketagihan secara fisik atau psikilogis, toleransi, keadaan putus zat, pemakaian
yang lebih besar dari yang dibutuhkan, kegagalan untuk menghentikan atau mengontrol penggunaan dan
mengurangi aktivitas sosial/pekerjaan karena penggunaan NAPZA, Sebagai tambahan, pengguna NAPZA mengtahui
bahwa
Zat tersebut mengakibatkan gangguan yang nyata, tetapi tidak dapat menghentikannya.
Intoksikasi zat mengacu kepada perkembangan yang reversibel , sindrom zat yang spesifik , yang disebabkan oleh
penggunaan suatu zat. Harus ada perilaku maladaptif atau perubahan psikilogis yang nyata secara klinis.
Keadaan putus zat mengacu kepada sindrom zat spesifik yang disebabkan oleh penghentian atau pengurangan
penggunaan NAPZA jangka panjang. Sindrom ini menyebabkan distres atau hambatan yang nyata secara klinis
dalam fungsi sosial. Sekolah atau pekerjaan.
Diagnosis penggunaan NAPZA pada remaja dinuat melalui wawancara yang hati-hati,observasi, temuan laboratorium
, dan riwayat yang diberikan oleh sumber yang dapat dipercaya . Penggunaan NAPZA dapat dilihat sebagai suatu
kontinuum mulai dari : hanya mencoba ( experimentation ), memakai sedikit, penggunaan secara rutin tanpa
gangguan yang nyata, penyalahgunaan dan akhirnya ketergantungan .
Beberapa indikasi adanya penggunaan NAPZA pada remaja :
Prestasi akademik yang menurun : sering membolos atau meninggalkan sekolah , sering membuat masalah dengan
teman, guru atau murid sekolah lain, sering memakai uang sekolah, mencuri, berhutang atau mengompas penyakit
fisik ringan yang tidak spesifik, perubahan sikap dalam hubungan dengan anggota keluarga lain, juga dalam
kelompok temannya , lekas marah, tersinggung, sikap kasar, tidak sabar dan egois, perubahan dalam penampilan,
perawatan / kebersihan diri,wajah murung, loyo mengantuk, kurang bergairah, acuh tak acuh, sering melamun,
disiplin dan sopan santun menurun, pakaian kotor dan lusuh, cara bicara lamban, tak jelas , kadang-kadang cadel,
serta banyak merokok.
Banyak dari indikator diatas yang terkait dengan awitan (onset) dari depresi, penyesuaian sekolah, atau prodromal
dari gangguan psikotik.yang harus diperhatikan adalah tetap menjaga komunikasi yang terbuka dengan remaja yang
diduga menggunakan NAPZA. Disini terdapat hubungan antara penggunaan NAPZA dengan perilaku risiko tinggi,
termasuk penggunaan senjata tajam, perilaku bunuh diri, pengalaman seksual yang dini, mengemudikan mobil
dengan risiko tinggi, menyukai musik keras (heavy metal), dan pemujaan/ritual agama yangmenyimpang, walaupun
tidak ada hubungan langsung dengan penggunaan NAPZA, namun adanya perilaku seperti diatas patut diwaspadai.
Penatalaksanaan
-Penanganan gawat darurat :
Pada kondisi overdosis sedativa, stimulansia, opiat atau halusinogen biasanya akan dibawa keruang gawat
darurat. Remaja yang dibawa keruang gawat darurat dalam keadaan perilaku kacau, Psikosis akut, koma,
kolaps saluran pernafasan atau peredaran darah, biasanya karena overdosis obat-obatan . Keadaan ini dapat
menjadi fatal bila salah diagnosis atau mendapat penanganan yang tidak tepat. Oleh karena itu tenaga medis
dan paramedis yang bekerja diruang gawat darurat haruslah mempunyai pengetahuan tentang obat-obatan
yang sering dipakai oleh penyalahguna NAPZA dan mampu mengatasi intoksikasi yang disebabkan oleh
berbagai macam zat tersebut.
Contoh : Naloxone, antagonis opiat, diberikan pada intoksikasi opiat akut, dengan dosis 0,1 mg/kg i.m. atau i.v.
setiap 2 – 4 jam selama masih dibutuhkan.
-Terapi dan Referal
Program terapi untuk pasien rawat–inap dan rawat-jalan bagi remaja dengan penyalahgunaan NAPZA cukup banyak
macamnya. Programyang komprehentif sangat diperlukan untuk remaja dengan ketergantungan zat. Kebanyakan
program ini memberikan konseling atau psikoterapi, disertai dengan teknik farmakoterapi, misalnya dengan
menggunakan methadone, namun ada juga yang memakai pendekatan bebas-obat (drug–freeapproach).
Keberhasilan berbagai metode pendekatan juga sangat tergantung pada kondisi remaja itu sendiri, akut – kronis,
lamanya pemakaian NAPZA, jenis NAPZA yang dipakai, juga kondisi keluarga.
Untuk pencehan terjadinya penyalahgunaan NAPZA sebaiknya diberikan penyuluhan kepada masyarakat luas
tentang NAPZA dan berbagai persoalan yang ditimbulkannya. Usaha ini juga dapat dipakai sebagai deteksi dini
penyalah gunaan NAPZA oleh anggota keluarga dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s